Tag Archives: teman tinta

Metafor Hidup dan Kelom Geulis

saya mengenalnya sebagai baikak, orang di tanah Pasundan mengenalnya sebagai Kelom Geulis. Kelom berarti sendal kayu, dan geulis berarti cantik; sendal kayu yang cantik. Keterasingan dua kata ini pasti akan sering muncul di banyak hal dalam kehidupan. Sebagai individu yang berpikir praktis, seleksi alam adalah salah satu istilah yang sering kita dengar. Tentunya berbagai kajian akademis mengenai perihal terkait lebih dalam menyelaminya.

Rincian yang tersemat pada bakiak cantik pun pudar, laksana rincian disekitar manusia. Banyak hal juga yang berganti, mulai dari roda politik, ekonomi, interaksi sosial manusia, sampai agama. Tapi tunggu dulu. Mungkin semuanya tidak sekaligus hilang. Melainkan perubahan bentuk juga terjadi diantara mereka.

Image

Kelom Geulis (Abi Syihab, 2012)

Seperti kelom geulis. Bukankah bakiak secara penggunaan tidak dikenal dengan cirinya yang cantik? Riasan warna dan corak membuat kelom berganti kulit. Tidak menghilangkan fungsi aslinya, sebagai alas kaki tentunya. Pun dengan berbagai macam hal.

Atau bahkan kelom geulis pada beberapa masa yang akan datang bukan lagi berasal dari tanah Pasundan? Melainkan dari tanah Amerika Selatan misalnya? Bagaimana tidak, diaspora di berbagai belahan bumi membuat sulit untuk membendung banyak hal, termasuk hal yang seperti ini. seberapa kuat paten di dunia internasional melalui Unesco misalnya, tetap saja batik sekarang sudah dikenal sebagai motif banyak kalangan. Atau bahkan teknologi yang kontemporer semisal smartphone?

Tidak ada yang kekal di bumi ini, kelom geulis menjadi satu saksinya. Begitu juga dengan kehidupan. Nyawa, ah ini sudah terlalu umum dibahasakan ke-tidak-kekal-annya. Makanan yang kita kunyah dan kita cerna pun tidak akan selamanya membantu regenerasi energi untuk beraktivitas setiap hari, termasuk jenis makanannya. Sekiranya ingin tetap bertahan, mungkin nanti sate ayam harus mengubah sajian yang biasa dikenalnya. Bukan dengan bumbu kacang mungkin, melainkan dengan bumbu cabai?

Namun adakah yang bertahan lama di muka bumi ini? Ada, damai.

Teman Tinta

Referensi

1. Syihab, Abi. 2012. Kelom Geulis Semakin Laris Manis. <http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2012/04/08/kelom-geulis-semakin-laris-manis-448314.html&gt; [10 Maret 2014].
2. Nn. 2013. Sejarah Sandal Kelom Geulis Tasik. <kelomgeulistasik.com> [10 Maret 2014].

Advertisements

Daun Terinjak

Kres
Kres kres kres kres!
Kres kres kres!
Kres kres kres!
Kres kres!
Kres kres
Kres kres kres kres kres kres kres kres
Kres kres kres kres kres

Suatu sore, sayup daun yang terinjak di suatu taman kota Bandung

Teman tinta

Larik Wanita Elok

Tidak ada yang mengira jika sumbu lilin bisa padam sebelum lampu kembali menyala.

Tidak ada yang mengira jika cita terantuk langit kamar yang rendah.

Mendung kembali datang, kali ini mendung yang pasti akan mengisi ruang kehidupan tiap manusia. Tidak ada yang dapat dielakan, tidak dapat ditolak. Namun hanya bisa berharap. Bahkan seseorang yang lebih buruk dari keledai pun akan berharap mendung ini dapat menjadi langit yang cerah nantinya.

Apakah engkau tau jawabnya? Aku pun tak tau. Pun dengan mahkluk bersayap.

Benih itu bergerak, menggoyangkan sekujurnya sehingga berbuah menjadi satu mahkluk. Satu mahkluk yang banyak sekali orang dambakan. Bahkan tanduk pun iri. Perintah puja bukan berarti merelakan, namun karena kehormatan atas mandat. Kemudian membesar, membesar, membesar, dan semakin besar.

Besarnya bunga tak mampu menahan berat tubuhnya. Kelopak belum terbentang, daun harus berguguran. Perlahan kembang tidak dapat menghadapkan wajahnya kepada mentari pagi. Ingin sekali dia melanjutkan lamunan, apa daya mata terpejam, selamanya.

Lambaian pelupuk tak sampai lengkap. Benih kembali benih.

Teman Tinta