Tag Archives: HI

Warta Untukmu dan Untukku

Assalamualaikum wr. wb.

Minggu malam ini satu hal yang jarang bagi seseorang seperti saya menulis apa saja, tidak terkecuali menulis pada blog ini. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan bagi kerabat-kerabat, sudah masuk hari ke-15 atau 16 ya malam ini?

Semenjak keluar dari Jatinangor sana banyak sekali liku yang sudah saya lewatin, terhitung kira-kira sudah dua tahun lebih. Namun dua tahun lebih itu banyak sekali memberikan distorsi pemikiran yang hingga kini tetap berhasil memertahankan idealisme saya sebagai manusia.

Peminatan saya di kawasan Asia Barat, atau yang sering kita dengar sebagai kawasan Timur Tengah sudah mulai sejak lama, bahkan lebih lama dari judul tugas akhir yang saya ambil beberapa waktu lalu mengenai Mesir. Peminatan itu tentunya langsung maupun tidak langsung membentuk pola pikir saya dalam menyikapi berbagai macam pemberitaan, bahkan pendirian.

Tidak terkecuali berita yang akhir-akhir ini sering menyeruak ke permukaan tentang pembubaran organisasi ISIS (Islamic State Iraq and Syams) yang diikuti dengan proklamasi khilafah oleh mereka (ad-Daulah al-Islamiyyah), yang tentu saja banyak ditentang oleh banyak kalangan.

Ngga, di tulisan ini saya bukan mau menyatakan baiat saya kepada mereka, namun saya hanya pemaparan dan memberikan informasi untuk mereka belum tahu mengenai apa dan bagaimana, sehingga dengan mudah mereka mencela. Terutama dari kalangan akademisi dengan latar serupa dengan saya (HI dan Unpad).

Sebelum memulai, mungkin yang pembaca perlukan adalah mengetahui berbagai nama yang akan muncul disini nantinya. Bagaimana caranya? Google sudah memberikan informasi yang sangat banyak, tinggal menyaring saja sesuai dengan kriteria tulisan disini.

Per 1 Ramadhan lalu, ISIS dibubarkan dan diproklamirkanlah kakhalifahan di tanah Iraq dan sekitarnya. Tidak semua wilayah di Iraq dan Syam (Syiria) berada dibawahnya, namun sudah banyak. Simpang siur berita yang beredar mengenai keberadaan ISIS sebelum dibubarkan sudah sering saya dan mungkin teman-teman saya terima, mengenai sepak terjang mereka. Namun yang sering mereka lupakan adalah apa yang melatarbelakangi ISIS itu muncul? Ramalan akhir zaman Rasulullah saw.? Ya, tapi jika saya tuliskan pada kesempatan kali ini, mungkin kalian akan kabur dan tidak jadi membacanya hehe.

Sejak invasi Amerika Serikat ke Baghdad tahun 2003 lalu, dengan berbagai dalil pembenaran mereka kondisi Iraq sudah tidak lagi kondusif. Puncak eskalasinya adalah Saddam Hussein yang dihukum gantung pada akhir kuartal pertama tahun 2006. Dan perlu diingat juga Saddam adalah seorang Sunni. Syiah yang makin memuncak di kalangan kursi eksekutif terlegitimasi oleh pemindahkekuasaan dari Amerika Serikat pasca invasi mereka. Sebelum melanjutkan, jika kalian memandang syiah itu sama dengan Islam, hentikan bacaannya sampai disini, tidak ada gunanya meneruskan membaca tulisan ini. Lebih baik cari dahulu mengenai apa itu syiah dan apa itu sunni (sunnah).

Pasca kekuasaan tertinggi dipegang oleh Nouri al-Maliki, dan hubungan sunni-syiah yang tidak pernah harmonis tentunya berbuah pahit. Genosida sunni di Iraq tidak terelakkan. Bahkan pada awal tahun 2014 yang lalu, Parlemen Uni Eropa pun mengeluarkan laporannya. Pada titik ini yang menjadi nadir para rekan-rekan saya melihat kondisi di Iraq sekarang. Mereka hanya bercermin pada apa yang mereka baca mengenai Iraq ketika ISIS melakukan serangan, namun mereka lupa apa yang melatarbelakangi mengapa ISIS muncul dan melakukan serangan balasan. Mereka meradang dan mengutuk perbuatan ISIS akan aksinya, namun mereka tidak pernah melihat apa yang melatarbelakangi perbuatan demikian ada.

Semenjak lepas dari dunia kampus lalu, perhatian saya mengenai Timur Tengah tetaplah sama, belumlah pudar, walau tidak juga dengan seksama saya mengikuti perkembangan dengan detail. Selama dua tahun ini pergaulan saya juga diisi berbagai interaksi dengan lembaga-lembaga kemanusiaan yang sering terjun ke daerah konflik. Laporan demi laporan yang berasal dari lapangan seringkali saya saksikan. Entah melalui presentasi langsung anggota mereka yang sedang pulang setelah terjun di daerah konflik, atau sekedar membaca laporan mereka melalui web lembaga mereka.

Laporan-laporan yang sering saya dapat terkadang di dalamnya tersinggung mengenai berbagai macam kelompok yang berperang disana, siapa yang salah dan benar. Semua saya dapat dari mereka yang terjun langsung di lapangan. Termasuk kelompok yang dibahas diatas ini. Walaupun semua NGO (non governmental org.) kemanusiaan yang saya ikuti keberadaannya tidak memihak antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, namun tidak sedikit dari mereka yang memberikan penilaian objektif (inter subjektivitas?) di lapangan karena perilaku yang mereka terima. Dan tanggapan mengenai kelompok diatas? Jangan anda bertanya. Hingga seakan saya membuat tulisan untuk “membela” keberadaan mereka pada kesempatan kali ini.

Tidak ada asap tanpa ada api. Sayangnya mereka hanya melihat asap ini timbul dengan sendirinya. Berbagai macam korban yang timbul sebelum kelompok-kelompok milisi bermunculan di daerah Iraq dan Syiria tidak pernah dilihat. Ya betul mereka memang tidak sempurna dalam menjalankan idealisme mereka, mereka patut dikritisi. Tapi kemanakah kritik kalian ketika korban-korban berjatuhan pada periode pasca invasi Amerika Serikat?

Saya sudah memenuhi maksud saya, yaitu penyampaian, bukan penerimaan.

Metafor Hidup dan Kelom Geulis

saya mengenalnya sebagai baikak, orang di tanah Pasundan mengenalnya sebagai Kelom Geulis. Kelom berarti sendal kayu, dan geulis berarti cantik; sendal kayu yang cantik. Keterasingan dua kata ini pasti akan sering muncul di banyak hal dalam kehidupan. Sebagai individu yang berpikir praktis, seleksi alam adalah salah satu istilah yang sering kita dengar. Tentunya berbagai kajian akademis mengenai perihal terkait lebih dalam menyelaminya.

Rincian yang tersemat pada bakiak cantik pun pudar, laksana rincian disekitar manusia. Banyak hal juga yang berganti, mulai dari roda politik, ekonomi, interaksi sosial manusia, sampai agama. Tapi tunggu dulu. Mungkin semuanya tidak sekaligus hilang. Melainkan perubahan bentuk juga terjadi diantara mereka.

Image

Kelom Geulis (Abi Syihab, 2012)

Seperti kelom geulis. Bukankah bakiak secara penggunaan tidak dikenal dengan cirinya yang cantik? Riasan warna dan corak membuat kelom berganti kulit. Tidak menghilangkan fungsi aslinya, sebagai alas kaki tentunya. Pun dengan berbagai macam hal.

Atau bahkan kelom geulis pada beberapa masa yang akan datang bukan lagi berasal dari tanah Pasundan? Melainkan dari tanah Amerika Selatan misalnya? Bagaimana tidak, diaspora di berbagai belahan bumi membuat sulit untuk membendung banyak hal, termasuk hal yang seperti ini. seberapa kuat paten di dunia internasional melalui Unesco misalnya, tetap saja batik sekarang sudah dikenal sebagai motif banyak kalangan. Atau bahkan teknologi yang kontemporer semisal smartphone?

Tidak ada yang kekal di bumi ini, kelom geulis menjadi satu saksinya. Begitu juga dengan kehidupan. Nyawa, ah ini sudah terlalu umum dibahasakan ke-tidak-kekal-annya. Makanan yang kita kunyah dan kita cerna pun tidak akan selamanya membantu regenerasi energi untuk beraktivitas setiap hari, termasuk jenis makanannya. Sekiranya ingin tetap bertahan, mungkin nanti sate ayam harus mengubah sajian yang biasa dikenalnya. Bukan dengan bumbu kacang mungkin, melainkan dengan bumbu cabai?

Namun adakah yang bertahan lama di muka bumi ini? Ada, damai.

Teman Tinta

Referensi

1. Syihab, Abi. 2012. Kelom Geulis Semakin Laris Manis. <http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2012/04/08/kelom-geulis-semakin-laris-manis-448314.html&gt; [10 Maret 2014].
2. Nn. 2013. Sejarah Sandal Kelom Geulis Tasik. <kelomgeulistasik.com> [10 Maret 2014].

Reportase, Diskusi Panel, Indonesia Dan G20: Tinjauan Kritis Dan Strategis.

Dua puluh September 2010 -Senin kemarin- saya berkesempatan menjadi salah satu wakil dari himpunan untuk menghadiri acara diskusi panel, yang temanya saya ketik diatas. Acara tersebut diselenggarakan di Holday Inn, Bandung. Bersama beberapa teman (Mufli, Grinanda dan Bayu) kami tiba disana sekitar pukul 14.15, pas saat acara dimulai. Setelah melakukan registrasi, kami pun langsung mengambil kursi yang kosong untuk mulai masuk ke rangkaian acara. Pembukaan oleh pembawa acara, yang dilanjutkan oleh sambutan yang disampaikan oleh Pak Asep Kartiwa, Dekan FISIP kita, Universitas Padjadjaran. Lalu dilanjutkan dengan pidato kunci dari Wakil Menteri Perdagangan/Sherpa G20, Bapak Mahendra Siregar. Dalam pidato singkat beliau (sekitar 15 menit-an), beliau memberikan pandangan dan juga menanamkan rasa optimis bagi kita, dan rasa bangga karena Indonesia menjadi bagian dari G20, yang bahkan membuat tetangga kita pun kalang-kabut mengenai hal ini (ngga rela Indonesia menjadi bagian dari G20). Yang biasanya Indonesia hanya mengikuti alur, dan hanya bisa menyalahkan pelaku ekonomi besar di dunia, sekarang Indonesia merupakan bagian darinya, bahkan mau tidak mau, Indonesia harus terima -if- disalahkan ketika suatu kebijakan G20 merugikan negara-negara lainnya. Karena beliau beranggapan kita, 20 negara itu, merupaka trend setter yang kemudian akan diikuti oleh negara lain, seperti domino effect. Dan bayangkan, kita menjadi salah satu bagian dari trend setter itu (cukup bayangkan dulu aja :P). Oh iya, beliau juga tidak menggunakan istilah developing country kepada negara-negara seperti kita ini, namun emerging markets economy country. Adanya G20 justru membantu reformasi sistem keuangan dan perbankan internasional, tidak seperti sebelumnya, tertutup dan hanya diketahui kalangan tertentu saja. Dan hal itu menambah prestasi dari G20; krisis global pada akhir-akhir ini sebenarnya mampu memunculkan another great depression yang dulu pernah “ngetrend”, hehe. Namun disini, dalam diri saya pribadi muncul pertanyaan, apakah nantinya agenda G20 akan sejalan dengan pemerintahan Indonesia, dan bagaimana dengan kompatibilitas G20 dengan organisasi yang sudah Indonesia ikuti sebelumnya, seperti ASEAN? Dalam diskusi panelnya, saya menemukan jawabannya cukup mengagetkan. Continue reading

PSNMHII XXII, Universitas Pasundan, short report

Mei, 2010, tanggal 25-28, bertepat di Bandung, kawasan sekitar Universitas Pasundan-Hotel Baltika, diadakan PSNMHII ke XXI, dengan tema utama Problematika Pariwisata Dan Budaya Indonesia Di Dalam Dinamika Global. Nah kebetulan banget, pada 25 dan 26, kita delegasi dari Padjadjaran lagi pada UAS, sampai akhirnya kami pada telat untuk 2 hari pertama, karena bolak-balik Jatinangor-Bandung untuk ngikutin dua kegiatan berbeda namun sama pentingnya. Hari pertama, ada seminar nasional mengenai tema utama PSNM diatas. Awalnya Menteri Budaya dan Pariwisata, Pak Jero Wacik dijadwalkan bisa menghadiri acara ini dan memberi seminar mengenai hal tersebut, namun beliau berhalangan hadir, namun tetep menugaskan bagian Kemenbudpar untuk mengisi posisi beliau. Sayangnya, beberapa delegasi kami telat dateng, beberapa rangkaian acara udah dahulu jalan, dan kami baru dateng 😦 Continue reading

Fireflies, a night to remember

new foto uploaded (19/May/2010)

Lima belas di bulan Mei, tahun 2010. Ada apa sih emangnya? Pada tanggal segitu temen-temen satu jurusan angkatan 2009 ngadain malam keakrabannya di salah satu tempat di Bandung. Udah lama temen-temen gw nungguin acara ini. Dan temen-temen gw juga udah nyiapin beberapa performance buat ngisi acara ini.

Ga banyak yang bisa gw tulis, karena emang tadi malem itu a night to remember, ga bisa di share semua ke orang banyak :p

Well, kyknya beberapa foto yang nanti akan di unggah akan memberikan kata-kata di benak kalian semua, yang lalu akan kalian rangkai sendiri menjadi kalimat yang menggambarkan Fireflies 2009. Continue reading