Monthly Archives: July 2014

Warta Untukmu dan Untukku

Assalamualaikum wr. wb.

Minggu malam ini satu hal yang jarang bagi seseorang seperti saya menulis apa saja, tidak terkecuali menulis pada blog ini. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan bagi kerabat-kerabat, sudah masuk hari ke-15 atau 16 ya malam ini?

Semenjak keluar dari Jatinangor sana banyak sekali liku yang sudah saya lewatin, terhitung kira-kira sudah dua tahun lebih. Namun dua tahun lebih itu banyak sekali memberikan distorsi pemikiran yang hingga kini tetap berhasil memertahankan idealisme saya sebagai manusia.

Peminatan saya di kawasan Asia Barat, atau yang sering kita dengar sebagai kawasan Timur Tengah sudah mulai sejak lama, bahkan lebih lama dari judul tugas akhir yang saya ambil beberapa waktu lalu mengenai Mesir. Peminatan itu tentunya langsung maupun tidak langsung membentuk pola pikir saya dalam menyikapi berbagai macam pemberitaan, bahkan pendirian.

Tidak terkecuali berita yang akhir-akhir ini sering menyeruak ke permukaan tentang pembubaran organisasi ISIS (Islamic State Iraq and Syams) yang diikuti dengan proklamasi khilafah oleh mereka (ad-Daulah al-Islamiyyah), yang tentu saja banyak ditentang oleh banyak kalangan.

Ngga, di tulisan ini saya bukan mau menyatakan baiat saya kepada mereka, namun saya hanya pemaparan dan memberikan informasi untuk mereka belum tahu mengenai apa dan bagaimana, sehingga dengan mudah mereka mencela. Terutama dari kalangan akademisi dengan latar serupa dengan saya (HI dan Unpad).

Sebelum memulai, mungkin yang pembaca perlukan adalah mengetahui berbagai nama yang akan muncul disini nantinya. Bagaimana caranya? Google sudah memberikan informasi yang sangat banyak, tinggal menyaring saja sesuai dengan kriteria tulisan disini.

Per 1 Ramadhan lalu, ISIS dibubarkan dan diproklamirkanlah kakhalifahan di tanah Iraq dan sekitarnya. Tidak semua wilayah di Iraq dan Syam (Syiria) berada dibawahnya, namun sudah banyak. Simpang siur berita yang beredar mengenai keberadaan ISIS sebelum dibubarkan sudah sering saya dan mungkin teman-teman saya terima, mengenai sepak terjang mereka. Namun yang sering mereka lupakan adalah apa yang melatarbelakangi ISIS itu muncul? Ramalan akhir zaman Rasulullah saw.? Ya, tapi jika saya tuliskan pada kesempatan kali ini, mungkin kalian akan kabur dan tidak jadi membacanya hehe.

Sejak invasi Amerika Serikat ke Baghdad tahun 2003 lalu, dengan berbagai dalil pembenaran mereka kondisi Iraq sudah tidak lagi kondusif. Puncak eskalasinya adalah Saddam Hussein yang dihukum gantung pada akhir kuartal pertama tahun 2006. Dan perlu diingat juga Saddam adalah seorang Sunni. Syiah yang makin memuncak di kalangan kursi eksekutif terlegitimasi oleh pemindahkekuasaan dari Amerika Serikat pasca invasi mereka. Sebelum melanjutkan, jika kalian memandang syiah itu sama dengan Islam, hentikan bacaannya sampai disini, tidak ada gunanya meneruskan membaca tulisan ini. Lebih baik cari dahulu mengenai apa itu syiah dan apa itu sunni (sunnah).

Pasca kekuasaan tertinggi dipegang oleh Nouri al-Maliki, dan hubungan sunni-syiah yang tidak pernah harmonis tentunya berbuah pahit. Genosida sunni di Iraq tidak terelakkan. Bahkan pada awal tahun 2014 yang lalu, Parlemen Uni Eropa pun mengeluarkan laporannya. Pada titik ini yang menjadi nadir para rekan-rekan saya melihat kondisi di Iraq sekarang. Mereka hanya bercermin pada apa yang mereka baca mengenai Iraq ketika ISIS melakukan serangan, namun mereka lupa apa yang melatarbelakangi mengapa ISIS muncul dan melakukan serangan balasan. Mereka meradang dan mengutuk perbuatan ISIS akan aksinya, namun mereka tidak pernah melihat apa yang melatarbelakangi perbuatan demikian ada.

Semenjak lepas dari dunia kampus lalu, perhatian saya mengenai Timur Tengah tetaplah sama, belumlah pudar, walau tidak juga dengan seksama saya mengikuti perkembangan dengan detail. Selama dua tahun ini pergaulan saya juga diisi berbagai interaksi dengan lembaga-lembaga kemanusiaan yang sering terjun ke daerah konflik. Laporan demi laporan yang berasal dari lapangan seringkali saya saksikan. Entah melalui presentasi langsung anggota mereka yang sedang pulang setelah terjun di daerah konflik, atau sekedar membaca laporan mereka melalui web lembaga mereka.

Laporan-laporan yang sering saya dapat terkadang di dalamnya tersinggung mengenai berbagai macam kelompok yang berperang disana, siapa yang salah dan benar. Semua saya dapat dari mereka yang terjun langsung di lapangan. Termasuk kelompok yang dibahas diatas ini. Walaupun semua NGO (non governmental org.) kemanusiaan yang saya ikuti keberadaannya tidak memihak antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, namun tidak sedikit dari mereka yang memberikan penilaian objektif (inter subjektivitas?) di lapangan karena perilaku yang mereka terima. Dan tanggapan mengenai kelompok diatas? Jangan anda bertanya. Hingga seakan saya membuat tulisan untuk “membela” keberadaan mereka pada kesempatan kali ini.

Tidak ada asap tanpa ada api. Sayangnya mereka hanya melihat asap ini timbul dengan sendirinya. Berbagai macam korban yang timbul sebelum kelompok-kelompok milisi bermunculan di daerah Iraq dan Syiria tidak pernah dilihat. Ya betul mereka memang tidak sempurna dalam menjalankan idealisme mereka, mereka patut dikritisi. Tapi kemanakah kritik kalian ketika korban-korban berjatuhan pada periode pasca invasi Amerika Serikat?

Saya sudah memenuhi maksud saya, yaitu penyampaian, bukan penerimaan.