Monthly Archives: February 2014

Daun Terinjak

Kres
Kres kres kres kres!
Kres kres kres!
Kres kres kres!
Kres kres!
Kres kres
Kres kres kres kres kres kres kres kres
Kres kres kres kres kres

Suatu sore, sayup daun yang terinjak di suatu taman kota Bandung

Teman tinta

Advertisements

Larik Wanita Elok

Tidak ada yang mengira jika sumbu lilin bisa padam sebelum lampu kembali menyala.

Tidak ada yang mengira jika cita terantuk langit kamar yang rendah.

Mendung kembali datang, kali ini mendung yang pasti akan mengisi ruang kehidupan tiap manusia. Tidak ada yang dapat dielakan, tidak dapat ditolak. Namun hanya bisa berharap. Bahkan seseorang yang lebih buruk dari keledai pun akan berharap mendung ini dapat menjadi langit yang cerah nantinya.

Apakah engkau tau jawabnya? Aku pun tak tau. Pun dengan mahkluk bersayap.

Benih itu bergerak, menggoyangkan sekujurnya sehingga berbuah menjadi satu mahkluk. Satu mahkluk yang banyak sekali orang dambakan. Bahkan tanduk pun iri. Perintah puja bukan berarti merelakan, namun karena kehormatan atas mandat. Kemudian membesar, membesar, membesar, dan semakin besar.

Besarnya bunga tak mampu menahan berat tubuhnya. Kelopak belum terbentang, daun harus berguguran. Perlahan kembang tidak dapat menghadapkan wajahnya kepada mentari pagi. Ingin sekali dia melanjutkan lamunan, apa daya mata terpejam, selamanya.

Lambaian pelupuk tak sampai lengkap. Benih kembali benih.

Teman Tinta