Monthly Archives: September 2012

Perusahaan Multi Nasional di Awal Islam Berdiri?

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,

Ketika membaca judul tersebut muncul pertanyaan, terlebih apakah sudah ada bentuk negara yang baku ketika dahulu awal Islam berdiri? Perkuliahan mengajarkan bagaimana sejarah awal perusahaan multi nasional pertama berdiri, bahkan saat Indonesia dijajah pun ketika itu VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie)tidak pantas mewakili Belanda secara keseluruhan. Berbagai kebijakan yang dibuat lebih cocok disematkan ke perusahaan dagang yang sedang melebarkan cengkramannya tersebut.

Era yang semakin dinamis membuat perusahaan multi nasional memiliki kelebihan dalam banyak aspek, salah satunya adalah posisi tawarnya dalam interaksi hubungan internasional. Sekalipun bentuk negara sudah menjadi bentuk baku yang mewarisi negara-bangsa, namun perusahaan multi nasional dapat menggunakan berbagai atributnya dalam berinteraksi. Penanaman modal melalui foreign direct investment akan memiliki imbas yang panjang seperti tenaga kerja, lahan yang digunakan sampai dengan kebijakan pajak terhadap host country. Hal yang terakhir menjadi sangat sensitif mengingat dengan prinsip ekonomi akan menggunakan sekecil-kecilnya pengorbanan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal.

Lalu bagaimana interkoneksi dengan judul diatas?

Awal masa Islam ketika Rasulullah saw mulai menyebarkan Islam dapat dilihat dari bagaimana orang disekitarnya berinteraksi. Satu catatan yang penting, beliau juga berprofesi sebagai pedagang yang sukses, begitu juga dengan istrinya, Siti Khadijah. Mereka adalah pedagang yang mahsyur di kala itu. Lebih jauh lagi mengenal, dari segelintir tetua suku yang ada yang menentang yang diemban Muhammad saw, juga adalah pedagang-pedagang ulung. Bentuk negara yang kaku seperti saat ini memanglah belum ada pada masa itu. Namun perdagangan yang melibatkan antara negara-bangsa sangatlah kental.

Terlebih ketika awal-awal mulai ditentang keras di Mekkah, ketika beberapa pemeluk Islam di Mekkah mulai migrasi (hijrah) ke Abyssinia (Ethiopia) dan diterima oleh Ashama, raja yang berkuasa saat itu. Lalu disusul dengan gelombang yang lebih besar ketika Muhammad saw hijrah ke Yatsrib (Madinah al-Munawarah) yang tentunya bersama dengan sebagian besar pengikutnya. Secara perlahan Mekkah yang ditinggalkan oleh penduduknya mulai memengaruhi pendapatan pedagang di Mekkah. Akibat sikap yang keras terhadap pemeluk awal Islam tersebut, pedagang – yang tidak semua beragama Islam tentunya, mulai mengeluhkan pendapatan yang berkurang akibat peristiwa ini. Bahkan Amr ibn Al-As yang saat itu belum memeluk Islam dikirim ke Abyssinia untuk menjalakan misi diplomatik langsung sebagai utusan dari petinggi Quraish yang menentang ajaran Muhammad saw. Tujuannya untuk bernegosiasi dengan raja Abyssinia agar mengembalikan mereka yang telah berhijrah ke Mekkah. Dikhawatirkan oleh petinggi Quraish Mekkah, umat Islam yang diterima oleh raja kemudian akan memengaruhi hubungan dagang antara Makkah dan Abyssinia. Namun misi diplomatik Amr ibn Al-As gagal, raja tidak menganggap ada halangan ketika umat Islam berhijrah ke Abyssinia.

Belum lagi ketika perjanjian Hudaibiyyah yang memaksa umat Islam yang telah mengikuti Muhammad saw hijrah dikembalikan. Para imigran yang telah hijrah ke Yastrib diwajibkan kembali ke Mekkah dan tidak boleh sebaliknya.

Secara historis segala bentuk kebakuan yang bergulir di masa sekarang belum terlaksana dalam masa awal Islam terlebih dengan teknologi seperti sekarang. Namun sudah dapat dilihat bagaimana manusia sudah melakukan perdagangan yang berpola, dan hal tersebut tidak dapat dipandang sempit karena pihak yang terlibat sudah jauh dari perdagangan tradisional antara satu penjual dan satu pedagang. Bentuk yang lebih luas sudah ditemui pada saat itu. Lingkup yang lebih sempit, peranan perusahaan multi nasional sudah terlihat pada waktu itu melalui perdagangan lintas suku, bahkan zona secara geografis.

Begitu juga dengan pengambilan keputusan, bagaimana petinggi Quraish yang tidak hanya berprofesi sebagai pedagang namun juga sebagai badan eksekutif di Mekkah melakukan misi diplomatik dengan kerajaan Abyssinia dengan anggapan umat Islam akan menjadi pengganggu hubungan dagang antara kedua pihak (Mekkah-Abyssinia). Namun anggapan tersebut ditolak ketika diplomat Mekkah, Amr ibn Al-As datang ke Abyssinia untuk melakukan negosiasi pemulangan umat Islam yang melakukan hijrah tersebut.

Perusahaan multi nasional yang diwakilkan oleh petinggi Quraish dapat menjadi wakil dari pengambilan keputusan tingkat tinggi (negara-bangsa). Pola yang sama juga dapat dilihat pada dewasa ini, bagaimana negara dan perusahaan multi nasional melakukan kerjasama yang bahkan bisa saling mendahului, walaupun sudah jelas kedaulatan tertinggi di tangan negara sebagai penyelenggara kekuasaan dan regulator terhadap apa-apa yang berada dalam naungan geografis sampai naungan psikologis. Para pimpinan Quraish pada saat itu berserikat dalam menentukan keputusan yang harus diambil untuk menjaga kelangsungan perdagangan mereka. Manusia berserikat dalam tiga hal yaitu air, padang rumput dan api. Seperti itulah gambaran mengenai perusahaan multi nasional dalam masa awal Islam berdiri.

Fahminoor Muhammad

Dari berbagai sumber

Penggiat Interaksi Antar Bangsa